Inovasi Limbah Jadi Rupiah: Mahasiswa KKN Unram Olah Kulit Pisang Menjadi Kerupuk Bernilai Ekonomis di Desa Padak Guar

07 Agustus 2026
ASAD
Dibaca 8 Kali
Inovasi Limbah Jadi Rupiah: Mahasiswa KKN Unram Olah Kulit Pisang Menjadi Kerupuk Bernilai Ekonomis di Desa Padak Guar

PADAK GUAR, LOMBOK TIMUR – Mengubah limbah organik menjadi produk konsumsi bernilai tambah, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pemberdayaan Masyarakat Desa (KKN PMD) Universitas Mataram menggelar pelatihan inovasi olahan pangan berbasis zero waste bagi warga Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia. Melalui kegiatan ini, kulit pisang yang biasanya dibuang begitu saja disulap menjadi camilan renyah, gurih, dan bernilai jual tinggi berupa kerupuk kulit pisang.

Pelatihan yang berlangsung interaktif ini dihadiri oleh kelompok ibu-ibu PKK serta warga setempat. Kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk memberikan keterampilan praktis pengolahan bahan pangan alternatif, tetapi juga mendorong tumbuhnya unit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) baru berbasis potensi lokal desa.

Kandungan Gizi Kulit Pisang & Edukasi Higienitas

Banyak masyarakat belum menyadari bahwa kulit pisang memiliki kandungan nutrisi yang sangat baik bagi tubuh. Berdasarkan edukasi gizi yang disampaikan (per 100 gram kulit pisang segar), kulit pisang mengandung:

  • Serat Pangan: Baik untuk melancarkan sistem pencernaan.
  • Kalium: Membantu menjaga tekanan darah tetap stabil.
  • Vitamin B6: Mendukung proses metabolisme tubuh.
  • Antioksidan: Melawan radikal bebas dan menjaga kesehatan sel.

Dalam pelatihan ini, mahasiswa KKN juga menekankan pentingnya higiene sanitasi makanan dengan slogan "Bersih bahan bakunya, bersih prosesnya, lezat kerupuknya, sehat tubuhnya!". Warga diingatkan untuk selalu mencuci tangan sebelum bekerja, menggunakan sarung tangan bersih, mencuci kulit pisang di bawah air mengalir, serta menggunakan air bersih yang layak pakai.

10 Tahapan Pengolahan Kerupuk Kulit Pisang

Untuk menghasilkan kerupuk yang renyah, mekar, dan bebas rasa sepet/langu, mahasiswa KKN memperagakan 10 langkah sistematis pengolahan:

  1. Pembersihan: Pilih kulit pisang dari buah yang sudah tua/matang. Pisahkan dari sisa daging buah, lalu cuci bersih di bawah air mengalir.
  2. Perebusan: Rebus kulit pisang selama 10–15 menit untuk mengurangi aroma langu dan melunakkan seratnya.
  3. Penghalusan: Haluskan kulit pisang yang telah direbus menggunakan blender hingga membentuk adonan bubur yang halus.
  4. Pembuatan Adonan: Campurkan kulit pisang halus dengan tepung tapioka, tepung terigu, dan bumbu halus (bawang putih, ketumbar, garam, dll). Aduk rata hingga adonan kalis.
  5. Cetak Adonan: Masukkan adonan ke dalam plastik es lilin/silinder, padatkan rapat-rapat, lalu ikat ujungnya.
  6. Pengukusan: Kukus adonan berbungkus plastik tersebut selama ± 30–40 menit hingga matang sempurna dan padat.
  7. Pendinginan: Angkat dan dinginkan adonan yang sudah dikukus hingga benar-benar dingin dan mengeras.
  8. Iris Tipis: Iris adonan setipis mungkin menggunakan pisau tajam agar hasilnya mekar dan renyah saat digoreng.
  9. Penjemuran: Jemur irisan di bawah sinar matahari langsung hingga benar-benar kering dan kaku (memakan waktu ± 1–2 hari tergantung cuaca).
  10. Penggorengan: Goreng irisan kering dalam minyak panas hingga kerupuk mengembang dan berwarna kuning keemasan, lalu tiriskan.

Tips Penyimpanan: Simpan kerupuk dalam toples atau kemasan kedap udara, letakkan di tempat yang sejuk dan kering terhindar dari sinar matahari langsung agar tetap renyah hingga 1–2 bulan pada suhu ruang.

Dukungan Terhadap Agenda Sustainable Development Goals (SDGs)

Inovasi pemanfaatan limbah kulit pisang ini secara langsung mendukung pencapaian beberapa poin dalam Sustainable Development Goals (SDGs):

  • SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production)

Mengusung konsep zero waste dengan mengolah bagian buah yang umumnya dianggap sampah menjadi produk bernilai gizi dan ekonomis, sehingga mengurangi timbulan sampah organik di lingkungan desa.

  • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth)

Diversifikasi olahan pisang menjadi produk kerupuk kemasan menciptakan peluang wirausaha baru bagi warga perdesaan, khususnya kelompok perempuan/ibu rumah tangga, untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

  • SDG 1: Tanpa Kemiskinan (No Poverty)

Pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas ini menjadi langkah nyata dalam menguatkan ketahanan ekonomi keluarga perdesaan melalui pemanfaatan bahan baku lokal yang murah dan melimpah.

Respon dan Antusiasme Warga

Ketua Kelompok KKN PMD Unram Desa Padak Guar menyampaikan bahwa komoditas pisang di Kecamatan Sambelia sangat melimpah, namun pemanfaatannya selama ini hanya sebatas pada daging buahnya. "Kami melihat ada peluang besar dari limbah kulit pisang. Dengan teknik pengolahan yang tepat dan higienis, limbah ini bisa diubah menjadi produk bernilai ekonomis tinggi sekaligus mendukung lingkungan yang lebih bersih," ujarnya.

Antusiasme warga terlihat sangat tinggi selama kegiatan berlangsung. Salah satu perwakilan ibu PKK mengungkapkan:

"Ternyata kulit pisang yang biasa kita buang bisa diolah jadi kerupuk yang renyah dan gurih. Cara buatnya mudah dan bahan-bahannya terjangkau, jadi sangat cocok untuk kita jadikan ide usaha baru di rumah."

Melalui pendampingan ini, diharapkan warga Desa Padak Guar dapat melanjutkan produksi secara mandiri hingga mampu mengemas dan memasarkannya ke pasar yang lebih luas.